Jika kau bertanya sejauh mana cinta membuat bahagia… Saling mengisi ,..tanpa pernah mengekang diri.. Jadikan percaya yang utama… (Cinta Putih-Katon) Lagi-lagi percaya yang utama.. dan lagi-lagi percaya yang utama… Dan percayakah anda bahwa kepercayaan itu sendiri pada dasarnya tak bisa dipercaya.. Sebab terkadang iman sekalipun mampu menyesatkan..karena terkadang iman hanyalah proses penumpulan daya kritis manusia yang notabene anugrah sang pencipta… Percaya adalah bagian dari keimanan .orang yang percaya terkadang dipercaya sebagai orang yang beriman. Dan orang yang beriman tentu dipercaya orang yang percaya. Percaya adalah sama dengan keyakinan dan ketundukan pada suatu bentuk yang bisa bersifat manifestatif dan bisa pula keyakinan pada bentuk imanensial. Contohnya gini.. sebagaian mungkin percaya bahwa sesuatu itu bisa kita yakini sebagai bentuk yang”sudah seharusnya” dipercaya misalnya.. konsep tentang Tuhan. Sebagain orang beranggapan bahwa Tuhan yang maha Agung itu itu bisa dilihat.. digambar.. dilukis.atau diberikan sebuah kiasan yang dapat mendeskripsikan. Dan tentu saja sebagaian orang tersebut percaya bahwa konsep ketuhanan yang bisa dipercaya adalah yang bisa di manifestasikan. Ini tentu saja mengandung sebentuk paradoks yang saling berhadapan.. karena iman pada dasarnya bersifat imanensial.. namun pada sisi paling esensial justru kekaburan konsep terjadi bahwa Tuhan bisa merupakan mewujud. Ejowantah-meng-ejowantah pada sebentuk yang bersifat manifestatif. Tuhan.. percayalah bahwa, Engkau jelas merupakan yang maha berbeda dan tidak tersamakan dengan bentuk2 pengandaian dalam agama atau sekalipun bentuk kepercayaan apapun.. Tulisan ini mungkin sebentuk kritik atas kepercayaan dimana Keimanan. Hanya merupakan bentuk kepercayaan manifestatif. Jadi kita percaya kalau sesuatu itu benar. Jika itu benar2 ada dan nyata. Tapi pernah kah terpikir bahwa adanya kita sendiri berasal dari ketiadaan (Dunia Sophie-Jostein Gaardner) Jadi. Mana mungkin kebenaran didefinisikan secara sangat sederhana bila cakrawala keberadaan-existence scope kita hanya pada kebenaran yang ”nyata” Ada banyak sekali pengandaian yang justru di berikan oleh Sang Tiada (alias Tuhan) misalnya Fatamorgana. Percayakah bahwa orang-orang yang begitu kerongkongan haus itu nyatanya memang merasa pendaran cahaya nun disana adalah sekolam air. Padahal begitu didekati justru makin tidak nampak ada dan makin membuat kerongkongan kita kehausan. Jangan-jangan kebenaran merupakan skenario multi skenario. Dimana ketika kita merasa sudah benar.. dan ”nyaman” dengan kebenaran itu sendiri .. pada saat bersamaan kita sendiri tidak ada dalam kolam kebenaran yang kita anggap benar itu. Misalnya. Ketika kita memperjuangkan suatu keyakinan dengan menafikan keyakinan lain yang juga sama eksist dan malah berupaya menjadi oponen atas eksistensi itu.. maka bukan tidak mungkin kita mengalami defisit kebenaran. Karena kebenaran yang sejai-nya justru seharusnya merupakan sebuah alat bantu paling universal memahami.. uversalitas. Jadi percayalah bahwa kita seharusnya percaya bahwa kepercayaan yang kita anut, yakini.. harus merupakan sebuah kebenaran yang dialogis.. berkembang.. tahan cuaca.. dan tidak anti kritik.. karena yakinlah.. kebenaran yang sempurna adalah kebenaran yang seharusnya idak anti kritik.. sangat bisa dikritik, sangat bisa di dan di berikan keleluasan untuk saling menjawab. Taruhannya tentu… Kepercayaan anda.. percaya??
Archive for July, 2006
jangan menyesal
Jangan pernah menyesali…
Jangan pernah menyesali apa yang kita pernah lalui dalam hidup..
Baik itu.. kegagalan, pencapaian, kehancuran, putus hubungan, disconnection, disharmoni, berlawanan,..
Karena toh pada akhirnya kita memang sampai kesana juga..
Orang mungkin boleh takut gagal.. tapi apa juga arti kegagalan…. Apa kalau kita bisa antisipasi kita terus menerus bisa lepas dari kegagalan..
Ada yang bilang.. dia mungkin sebuah keberhasilan yang hanya saja meski tertunda.. atau juga disconnection.. mungkin itu juga pertanda kita memang harus sampai pada koneksi baru…
Atau terbarukan dan diperbarui…
Kisah hidup kita memang unik.. tapi seperti juga kata keiya setelah membaca buku Celestine prophecy.. bahwa.. bahwa “yang terjadi memang adalah yang harus terjadi”…
Tanpa perlu dan bisa ditawar..
Bisa di cegah.. tapi bilanya harus terjadi.. yah terjadilah
Sebab.. manusia hidup dalam latar bernama takdir..
Terjadilah maka terjadilah.. begitu juga dengan sabda Tuhan…
Karena kejadian adalah keluasan dari keberadaan dari Sang Maha Ada itu..
Dan setepatnya ia mendefinisikan keadaan yang segala maha ada.. itu
Baik kehidupan, kematian, kelahiran, keguguran, kedatangan juga berada didekat kepergian…
Ada 2 pandangan tentang takdir.. yakni mereka yang percaya bahwa kalau hidup kita bila sudah dikehendaki di kiri maka akan berada dikiri jalan.. sedangkan jika Sang maha kehendak menghendaki kita di kanan maka dikanan jalanlah kita….jadi tekanannya pada subyektifitas sang Maha Kehendak…
Sedangkan pandangan satu lagi… bahwa takdirpun bisa merupakan obyektifitas sang Maha Kehendak.. bahwa manusia merupakan lahan free will dari kehendak subyektif sang Maha Kehendak sendiri.. tinggal manusia mampu melihat takdir sebagai apa…
Kita selalu berpikir kalau ditimpa sebuah perkara pasti.. kita akan bilang .. “yah ini sudah takdir hatus kita terima”
Ga ada yang salah.. karena memang dihadapan sang Takdir kita memang bukan penguasa..
Orang bijak bilang.. jangan melawan takdir. Tapi berlakulah yang terbaik.. dari hidup..
Sebab takdir adalah juga obyektif immutable…
Kalaupun kita gagal.. tidak beruntung, miskin, menderita, sengsara atau sekalipun kita mati.. ataupun sekalipun kita masuk neraka.. yang penting kita melakukan yang terbaik yang kita bisa pahami tentang kehidupan ini…
Ah.. rasanya kita tidak mungkin masuk neraka… kalau kita berbuat baik.. dan berpegang teguh pada logika semesta.. logika-logika universal.. tentang keikhlasan, keadilan, kebajikan yang kesemuanya bernilai universal..baik tentang Tuhan, tentang, hidup, tentang, perjalanan dan kematian…
Toh.. kita sendiri tidak tahu kita ini siapa dan apa???
jangan menyesali apapun yang dikaruniakan sang Takdir pada kita.. karena pada kenyataannya kita hanyalah seongok placenta yang di titipkan sejumput energi.. untuk bisa merasakan.. mencintai, . berpikir..
berjalan.. menghirup nafas.. bernafsu.. berhasrat,.. bertingkah…
toh kita ini sebenarnya… hanya sebuah titik kecil dilingkaran semesta…
bukan begitu…???
lakukan yang terbaik.. yang kita bisa… jangan menangis.. dan bila mana harus menangis… menangislah…
dan bila mana harus tertawa.. tertawalah.. mendengkilah.. marahlah..
mencintailah.. tapi satu hal.. jangan menyesali…
dan sekalipun memang harus menyesali.. maka menyesali lah.. paradoks sekali..memang.